23 Januari 2009

Dreaming Stories Rayakan Film dan Seni Penduduk Asli Australia 

Sutradara film Indonesia ternama yang juga lulusan Australia Mira Lesmana dan  Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia Louise Hand membuka Dreaming Stories, the Australian Indigenous Cultural Festival di Jakarta hari ini.

“Saya senang kami bisa membagi ikatan kuat yang dimiliki oleh penduduk asli Australia dengan tradisi mereka dan berbagai cara yang mereka lakukan untuk menjaga dan merayakan tradisi tersebut hingga saat ini,” Louise Hand mengatakan.

Diselenggarakan di Blitzmegaplex, Grand Indonesia dari 22 – 26 Januari 2009, festival ini menyuguhkan pemutaran film-film unggulan Penduduk Asli Australia dan BALGO, suatu pameran kontemporer Aborijin dari perbukitan Balgo di pedalaman Australia Barat.

Dibuka dengan pemutaran film penuh pujian Ten Canoes yang disutradarai oleh Sutradara terkemuka Australia Rolf De Heer, festival ini juga memutar film Rabbit Proof Fence; the Tracker; dan Australian Rules, suatu film mengenai sepak bola khas Australia. Hampir keseluruhan film telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

BALGO menampilkan rangkaian kisah dan upacara mitologis Tjukurrpa (Dreaming) yang artis Balgo lukis dalam bentuk kesenian baru yang memadukan hal-hal yang kuno dengan yang kontemporer, abstrak dengan perwujudan bentangan alam; spiritualisme dan politik.

Dua seniman dari Balgo Joan Nagomara dan Imelda Gugaman, Direktur Pusat Seni Artis Warlayirti, Sally Clifford dan Ketua Kajian Ilmu Aborijin di Curtin University, Professor Anita Lee Hong akan mendampingi pameran ini dalam pementasan internasional perdananya di Jakarta.

Dreaming Stories disponsori oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia bekerja sama dengan Dewan Kebudayaan Internasional Australia, Screen Australia dan Artbank dengan dukungan dari Qantas, BERRI, Weis Ice Cream, Curtin University, Four Seasons Hotel Jakarta, Cinemags dan KangGuru Indonesia.

Media Enquiries:
Fiona Hoggart, First Secretary (Cultural) ph. (021) 2550 5260